Babak Baru “Mafia Mangrove” Di Belitung Timur, Penanam Terima Upah Hanya 15 Ribu Dan Bibit 900 Rupiah

Beltimnews.com, Belitung Timur – Babak baru dugaan adanya segelintir oknum sengaja mempermainkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) rehabilitas mangrove di Kabupaten Belitung Timur, mulai menemui titik terang. Kamis (10/2/2022)

Hal tersebut berawal dari keterangan berbeda dari Ilham selaku Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Tepi Desa Tanjung Kelumpang Kecamatan Simpang Pesak, dan pengakuan dari pekerja yang menanam bibit mangrove, serta fakta lokasi penanaman yang menjadi floating area program PEN dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang berlokasi di pulau babi Desa Tanjung Kelumpang.

Ilham mengatakan jika Kelompok Tani yang ia Ketuai mendapatkan jatah rehabilitas mangrove sekitar 30 Hektar, dan berlokasi di pulau babi yang berada masih di Desa Tanjung Kelumpang.

Ia menjelaskan jika Kelompoknya memiliki 21 anggota yang aktif ikut menanami bibit mangrove di pulau babi tersebut. Ia juga menyiapkan 150 ribu bibit mangrove yang ia beli dari Manggar melalui Oknum Bpdas.

“Ada orang dari Bpdas yang kesini, dia yang menunjukkan tempat pembelian bibitnya. Jadi pembelian bibitnya dari manggar, karena ada pembibitan disana. 1 bibitnya Rp2500, kita beli tahap pertama 80 ribu bibit. Kita beli bertahap karena mungkin penanamannya lama, jadi nanti takut mati bibitnya. Total 150 ribu bibit yang kita beli,” ujar Ilham

Ilham juga mengatakan, jika penanaman 150 ribu bibit mangrove tersebut dimulai dari Bulan Oktober dan selesai pada Bulan Desember 2021.

Dengan mempekerjakan 21 anggota KTH Bakau Tepi, ilham mengakui mampu menyelesaikan 150 ribu bibit dalam kurun 3 bulan dengan luas laham 30 hektar. Dan memberikan upah kepada pekerja HOK (Harian Orang Kerja) langsung ke rekening dengan upah total 6,8 sampai 7,5 juta.

Ditanya uang upah para pekerja berasal dari mana, Bendahara KTH Agung Revi Yovano menerangkan jika dana dikirim dari salah satu koordinator program tersebut yang ia tidak ketahui namanya. Dan dana tersebut dikirim langsung ke masing – masing anggota yang ikut terlibat langsung penanaman tersebut.

“Dikirim dari atas (Koordinator) itu tidak merata, kami tidak tau menau, karena dikirim ke rekening masing – masing,” ucap Agung

“Mereka kan punya rekening sendiri, jadi langsung masuk ke ke rekening mereka,” tambah ilham

Tidak main – main, total uang yang diterima oleh ilham untuk KTH Bakau Tepi senilai Rp500 juta.

“Kalau ke kelompok itu Rp300 jutaan, untuk pembelian bibit, kayu pancang dan yang lain. Ditambah lagi untuk upah pekerja beda lagi, kalau dihitung – hitung total kurang lebih Rp500 jutaan,” ungkap ilham alias Kayo

Pernyataan Berbeda Dari Pekerja Penanam Mangrove KTH Bakau Tepi

Pak Jamatulludin mengaku ikut menanam mangrove di kawasan tersebut dengan anak dan istrinya mulai akhir Desember 2021. Namun, dia tidak mengetahui apapun tentang adanya KTH ataupun program PEN Rehabilitasi Mangrove.

“Tidak tahu ada kelompok-kelompok seperti itu. Kemarin saya hanya lihat kok orang pada menanam itu. Jadi saya pengin ikut dan dibolehkan. Saya dibayar per kotak itu Rp15 ribu. Satu kotak ukuran 1 Meter Persegi (1×1) berisi 15-25 bibit,” kata Jamal yang juga guru olahraga SD.

Anaknya bernama Zidane bahkan mengatakan bibit yang dibeli tidak berjumlah 150.000 melainkan hanya membeli 10.000 bibit. Mengenai sisa kebutuhan bibitnya dia mengatakan bibit yang sudah tumbuh lalu dicabut dan ditanam di areal yang lain.

“Iya seperti itu arahannya. Nanti mereka ada yang bertugas memfoto setelah bibit cabutan itu ditanam lagi. Terus soal keanggotaan kami bukan termasuk anggota kelompok itu. Setahu saya anggotanya cuma sekitar tiga orang,” kata Zidane.

Terkait pembayaran upah, Jamal mengaku dibayar sesuai dengan kotak yang dia tanam. Dia mengatakan bekerja selama empat hari dan dibayar tunai setiap selesai bekerja. Dia bahkan tidak mengetahui apapun mengenai kewajiban adanya rekening bank untuk pembayaran upah menanam.

“Selama empat hari bekerja bisa mendapat sekitar Rp7 juta, dan itu dibagi lagi sama anak istri yang juga ikut nanam,” kata Jamal.

Senada, Eko Rosadi yang juga menanam di areal Bakau Tepi mengatakan bukan merupakan anggota kelompok tersebut. Namun dia juga sama-sama dibayar secara tunai oleh KTH Bakau Tepi tanpa ada nomor rekening apapun dengan nominal hampir sama.

“Kemarin sempat dimintai fotokopi KTP katanya untuk program tahun 2022. Tapi katanya programnya batal,” kata Eko.

Ia mengatakan bergabung menanam mangrove itu sejak Desember 2021. Selama dia menanam hanya menerima sekitar Rp4 juta. Dia juga mengatakan mendapatkan tambahan Rp900 untuk setiap bibit mangrove yang dia tanam dengan asal mangrove cabutan yang sudah ditanam sebelumnya.

Saat mengecek ke lokasi penanaman, ditemukan beberapa plastik besar yang berisi bibit mangrove yang sudah layu dan tidak ditanam. Bibit mangrove itu terlihat beserta akarnya tergeletak di depan plang informasi kegiatan Padat Karya Percepatan Rehabilitasi Mangrove tahun 2021.

Fakta Dilokasi KTH Bakau Tepi

Lokasi lahan Diduga kurang dari 30 hektar

Bibit Mangrove Banyak Yang Mati

 

Lokasi Penanaman Pulau Babi diduga sedang bermasalah karena lahan tersebut milik Pribadi perorangan, dan sempat terjadinya protes atas penanaman secara sepihak tersebut serta meminta penanaman dihentikan.

Ditemukan 5 kantong plastik besar yang isinya Bibit Mangrove yang telah mati dan tinggalkan di area tepi pantai lokasi penanaman KTH Bakau tepi

(Wahyu)

Penulis: Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *