Belajar dari Curahan Bunga “Viola”, “Salvia” dan Open BO-nya. Serap Hikmah Ketimbang Memaki

Belajar dari Curahan Bunga “Viola”, “Salvia” dan Open BO-nya. Serap Hikmah Ketimbang Memaki

Beltimnews.com – Keluarga merupakan tempat berpulang paling aman atas pahit manisnya yang dihadapi setiap orang akan kehidupan yang dilaluinya, terutama bagi seorang anak. Namun, seringkali kita temui bahwa realita tak seindah ekspetasi.

Realitanya, banyak anak-anak merasa bahwa keluarga bukanlah tempat aman untuk berpulang mencurahkan segala pahit manis kenyataan yang tengah dilaluinya. Oleh karena berselimut di balik kata “takut”.

Contoh kasus, kita sebut saja anak perempuan ini dengan inisial “Bunga Viola”. Saat ini Viola berusia 16 tahun. Pengalaman hidup yang pernah ia alami semasa SMP memiliki dampak yang luar biasa terhadap kehidupannya saat ini.

Di usia yang terbilang masih sangat dini, Viola mengalami kekerasan secara seksual oleh lingkungan keluarganya sendiri.

Viola mengaku telah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan seseorang yang masih memiliki pertalian keluarga dengannya sejak ia masih duduk di bangku SMP. Sebut saja nama pria itu “Liboi”. Walaupun bukan saudara dekat, namun sejak kecil Viola yang memiliki sifat dan temparen agak tomboy sering mampir dan main ke rumahnya si Liboi.

Pada suatu hari saat Viola main ke rumah Liboi, lalu Liboi menyuruhnya untuk nyicip minuman beralkohol (minol). Nahasnya, saat kondisi Viola sedang mabuk setelah ngonsumsi minol tersebut, ia telah dianiaya Liboi, saudaranya tersebut. Remaja SMP itu telah mengalami kekerasan seksual (diperkosa) di lingkungan keluarganya sendiri.

“Saya tidak menyadari perlakuannya (Liboi) karena dalam pengaruh alkohol (mabuk). Namun, setelah tidak dalam pengaruh alkohol, saya baru nyadari hal itu karena ada sedikit ingatan yang ngembekas saat kejadian tersebut berlangsung,” ujar Viola.

Bukannya tidak marah atau menyesal. Tapi, Viola merasa tak berhak sepenuhnya menyalahkan siapapun atas kondisi yang menimpanya ini. Hal ini karena ia menilai bahwa kejadian tersebut juga merupakan salahnya sebab telah menerima ajakan untuk mencoba minol sehingga berujung pada kejadian yang tidak diinginkannya.

Akibat kejadian tersebut, Viola merasa tidak nyaman untuk keluar kamar. Bahkan, untuk keluar kamar saja pun ia merasakan sakit saat berjalan beranjak meninggalkan kamarnya. Selama seminggu, ia mengakui bahwa hanya berada di dalam kamarnya saja secara terus-menerus. Keluar dari kamarnya pun hanya sekadar untuk keperluan yang mengharuskannya untuk keluar seperti makan dan sebagainya.

Dengan kondisi yang demikian, tentunya orang tua Viola bukannya tak menanyakan keadaan putrinya tersebut. Orang tua manapun pasti akan terheran-heran jika anak yang biasa main ke luar rumah, tiba-tiba mendadak jadi anak rumahan. Namun, Viola tidak mengatakan yang sejujurnya kepada orang tuanya. Ia tidak berani dan takut untuk mengutarakan yang sebenarnya sehingga kisah kelam itu dipendam olehnya sendiri saja.

Sampai suatu hari, karena lingkungan pergaulan yang memiliki pengaruh negatif terhadapnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah. Bahkan, karena pergaulan yang negatif tersebut telah melabuhkannya dirinya bertemu dengan “mami”, seorang mucikari yang mengelola bisnis prostitusi online.

“Saya tahu dunia ini (prostitusi) dari teman ke teman yang ujungnya kenal dengan mami ini,” ujar Viola.

Sejak itu, dunia yang seharusnya ia kenal sebagai seorang pelajar yang pusing memikirkan tugas sekolah atau jarang di rumah karena banyaknya kegiatan ekstrakulikuler, menjadi berubah dengan kesibukan yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak seusianya.

Viola mengakui bahwa untuk mencari uang demi memenuhi hasrat untuk ia berbelanja. Ia rela jual diri melalui aplikasi yang dimanfaatkan oleh mucikari untuk menjual dirinya kepada para pelanggan yang dikenal dengan istilah “Open Bo”.

“Saya melihat orang yang melakukan itu (Open Bo) “berhasil”. Terlihat banyak dapat duit. Jadi, pengen nyoba. Lalu keterusan,” ujar Viola.

Bagaimana tidak, uang yang ia dapat dari hasil tersebut tak betah di dompet, seperti uang panas yang taip kali ludes dibelanjakan. Dapat lagi terus habis lagi. Viola merasa tergantung akan hal tersebut, terutama saat ia ingin membeli barang atau berbelanja untuk keperluan-keperluan lainnya.

Pernah merasa ingin berhenti, tapi nasib, nasi sudah jadi bubur. Viola merasa dengan kondisi yang ia hadapi sekarang seperti sudah tidak sekolah dan jarang di rumah, ada kewajiban yang harus ia tunaikan di mana ia merasa malu untuk minta ke orang tua jika ingin membeli sesuatu. ”Udah gede,” begitu tuturannya.

Senada dengan teman Viola, kita sebutlah dengan inisial “Bunga Salvia”. Jika Viola sudah tak bersekolah, beda halnya dengan Salvia, seorang pelajar yang masih berusia 16 tahun dan tengah duduk di bangku SMA.

Salvia juga mengetahui dunia Open Bo dari komunikasi satu teman ke teman lainnya. Alasan awal Salvia masuk ke dunia gelap open BO itu dari kasus sederhana, karena ia tak punya uang untuk pulang ke rumahnya selepas jalan-jalan.

Hingga, tanpa paksaan saat ditawari temannya, ia melakukan hal tersebut untuk mendapatkan uang. Hal ini juga dilakukannya di lain waktu saat ia membutuhkan uang buat belanja atau membeli barang.

“Aku sebenarnya takut melakukan hal itu, tapi karena mau bayar barang habis belanja COD misalnya, nggak punya duit, jadinya begitu,” ujar Salvia.

Salvia merasa takut dimarahi jika minta uang ke orang tua karena tahu kondisi orang tuanya yang cukup susah secara ekonomi.

Baik kejadian yang menimpa Viola maupun Salvia, ada banyak hal yang seharusnya diserap hikmahnya dibanding harus memaki. Terutama, sebagai masyarakat yang turut mengambil peran agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Bagaimana pun kondisinya, anak-anak baik sebagai pelaku maupun korban harus terus diayomi. Seringkali sebagai masyarakat memperlakukan anak-anak terutama yang di posisi pelaku, layaknya tak punya masa depan, tak boleh didekati, virus bagi anak-anak seusianya, dan berbagai macam pemikiran lain.

Ketika ia berada di lingkungan masyarakat, ia dikucilkan. Ketika ia berada di lingkungan keluarga, ia merasa disalahkan. Paling fatal jika ia berstatus seorang pelajar, tak sedikit sekolah yang mengeluarkannya sehingga ia tidak dapat memenuhi hak untuk mendapat akses pendidikan lagi.

Lalu, bagaimana ia akan menghadapi esok hari yang nyatanya begitu berat untuk dilewati? Paling penting, bagaimana nasib masa depannya jika ia tidak mendapat haknya sebagai anak di lingkungan mana pun? Bukankah setiap diri kita seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa memperbaiki apa yang layak untuk diperbaiki?

Tak ada yang perlu disalahkan, baik anak, orang tua maupun masyarakat. Sebab masalah di dalam hidup memang akan selalu ada. Kita hanya perlu sama-sama untuk mengambil peran kebaikan, saling memposisikan, paling penting lebih banyak untuk saling mendengar dan berkomunikasi.

Buat lingkungan senyaman mungkin di mana tembok “takut” bagi anak-anak untuk mengutarakan apapun yang tengah dirasa dan dialami tidak lagi ada sehingga kita dalam posisi apapun bisa saling mengambil peran terhadap apapun yang tengah dihadapi anak-anak.

Tentunya, agar anak-anak sebagai penerus bangsa ini tidak lagi terjerumus atau dimanfaatkan oleh mereka yang hanya ingin mengambil keuntungan semata tanpa memikirkan dampak apa yang akan diterima oleh anak-anak tersebut.*

(Monika/Beltimnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *