Jumlah Penderita HIV/Aids di Beltim Sudah Sangat Mengkhawatirkan

Wadaw! Jumlah Penderita HIV-Aids di Beltim Sudah Sangat Mengkhawatirkan

Beltimnews.com, Manggar – Angka Penderita HIV/Aids di Kabupaten Beliting Timur (Beltim) terbilang sangat mengkhawatirkan. Tercatat oleh Dinas Kesehatan 30 penderita di beberapa Kecamatan di Beltim dengan hasil sudah positif Aids.

Anggota Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) divisi pengelola HIV Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Beltim, Gunawan, mengungkapkan, penderita Aids di wilayah Beltim adalah laki-laki, perempuan, dan anak-anak.

“Jumlah yang tercatat untuk saat ini dalam artian rutin mengambil obat itu ada 30 orang, dengan penderita laki-laki, perempuan, dan anak-anak,” ujar Gunawan kepada Beltimnews.com, Jumat (5/8/2022).

Menurut Gunawan, dengan jumlah puluhan tersebut bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Beltim, angka tersebut terbilang sudah mengkhawatirkan.

“Untuk jumlah segitu, dibanding dengan porsi penduduk Beltim sudah mengkhawatirkan ya, itu angka yang tercatat di kami dan terdeteksi. Sedangkan di luar sana kita tidak tahu seberapa banyaknya,” katanya.

Gunawan menjelaskan, untuk penanganan bagi penderita yang sudah terdeteksi akan dilakukan pemeriksaan lanjutan barulah akan dikasih obatnya secara rutin.

Terkait pemberian obat, lanjut Gunawan, biasanya akan diberikan perjanjian dengan pasien jangan sampai obat terbuang percuma karena obatnya terbilang mahal dan faktor kedua resisten terhadap pemberian obat lini pertama.

“Untuk penangannya sendiri jika sudah terdeteksi akan diadakan pemeriksaan lanjutan viral load sama kimia darahnya barulah bisa dikasih obat, pemberian obat sendiri kita buat perjanjian dengan pasien jangan sampai kita ngasih obatnya dianya belum siap,” katanya.

Gunawan menyebutkan, dari mulai pemeriksaan hingga pemberian obat kepada pasien diberikan secara gratis, dan obat diberikan selama seumur hidup.

Selain itu, Ia berpesan kepada masyarakat agar tidak menghakimi dan berlaku diskriminasi kepada masa lalu penderita, sehingga pasien bisa melakukan pemeriksaan secara aman. Karena sejatinya penyakit ini tidak menular melalui sentuhan fisik.

“Mohon kepada masyarakat jangan menghakimi atau mendiskriminasi masa lalu penderita, inilah penyebabnya mereka tidak mau melakukan pemeriksaan. Sejatinya penyakit ini tidak menular lewat sentuhan fisik kebanykan kasus tertular lewat transfusi darah dan tertular sejak di dalam kandungan,” tutupnya.*

(Teguh | Beltimnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *