Patah Hati Anak Pulau – Cerita Pendek Lembar 1

Setelah kehilangan kedua orangtuaku, mengapa tuhan juga mengambilmu…?

Aku begitu hancur hari ini.. aku berusaha menggali kuburmu dengan kedua tanganku, diiringi teriak tangisku memanggil namamu..

Sesekali terbesit kenangan kita berdua yang membuat tangisku semakin kencang, namun tubuh ini seakan melemah hingga tanganku terasa tak bertenaga lagi untuk mengais tanah yang telah menguburmu..

Mengapa tuhan tak izinkan kita bertemu kembali? Tak restukah Tuhan dengan janji kita untuk hidup bersama?, Aku hanya pergi sebentar memperbaiki keadaan hidup masa depan kita, namun kau satu-satunya manusia dalam hidupku kini telah disisi tuhan…

Aku kehilangan semuanya…. dan aku begitu hancur…

Aku masih menatap dalam baju pengantin yang akan kau kenakan nanti, terpintas ingatan dimana aku memintamu menjadi pendamping hidupku, dengan mata yang berkaca – kaca sambil menyeka air mata dengan tangan sebelah kanan, engkau mengatakan bersedia. Tangis bahagia kita berdua pecah Bersama…

Bukan tanpa alasan kita menangisi hari penuh kenangan itu, banyak sekali luka dan duka yang kita obati bersama.

Air Mata Pertama (Patah Hati Terhebat)

Aku seorang anak yatim piatu, sudah lama kedua orangtua ku meninggal dunia karena tak tertolong diobati karena sakit. Ketika itu usiaku masih berumur Delapan tahun saat aku menyaksikan ibuku merintih kesakitan dikasurnya, sedangkan ayah sedang mencari motor tetangga untuk dipinjam mengantar ibuku ke puskesmas terdekat.

Dua jam, aku sangat mengingatnya.. Dua jam ibu menahan sakitnya menunggu ayah pulang membawa motor untuk mengantarnya. Akhirnya ayahpun datang ditemani seorang pria yang tak kukenal saat itu. Dengan wajah panik ayah bergegas menggendong ibu dari kasurnya, dan membawanya ke puskesmas terdekat memakai motor supra bewarna biru diringi suara knalpot yang berisik.

“Cepat pak, naikan istrinya ditengah saja sambil digendong. Biar saya yang bawa motornya,” kata pria berjaket parasut berwarna abu-abu yang telah siap diatas motornya.

Aku yang hanya bisa menyimak percakapan itu sambil bersandar disisi pintu depan rumah, ingin rasanya aku membantu ayah pada saat itu, namun ayah hanya menyuruhku menunggu saja dirumah. “Sayang kamu tunggu dirumah dulu ya, nanti ayah jemput,” teriak ayah kepadaku dengan nada suara seperti akan menangis sambil menggendong ibu diatas motor.

Dan motor itu perlahan menjauh hilang dari pandangan, suara knalpot yang cukup menganggu itupun perlahan-lahan turut menghilang..

Bersambung….

 

Terbit : 24 Februari 2024
Penulis : Wahyu Fajarullah
Penerbit : Beltim News

Penulis: Wahyu FajarullahEditor: Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *