Patah Hati Anak Pulau – Cerita Pendek Lembar 2 (Patah Hati Terhebat)

Sambungan Patah Hati Anak Pulau – Lembar 1

Saat itu pukul Satu dini hari Ketika ayah membawa ibu, dan aku menunggu sendiri dirumah berharap ayah segera menjemputku. Kelopak mataku mulai terasa berat, ingin rasanya tidur sejenak namun hati dan pikiran gelisah membuatku tetap terjaga.

Azan subuhpun berkumandang ayah tak kunjung datang untuk menjemputku, aku terus menatap jam dinding dan memperhatikan dengan seksama gerakan jarum jam yang terus berdetak.
“Ibu….” gumam dalam hatiku dengan mata terpejam

Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil ambulan yang mendekat kerumah, lamunanku seketika membuyar, mataku yang begitu berat tiba-tiba ringan. Aku masih membisu dan meyakinkan dalam hati jika suara duka itu tak menuju kerumahku. Segera aku bergegas membuka pintu, dan ternyata mobil ambulan itu berhenti tepat didepan rumah.. “Apa yang terjadi?” tanya hatiku begitu gelisah

Perlahan pintu bagian belakang mobil terbuka, dan aku melihat ayah dengan tubuh yang lusuh keluar dari mobil itu. Ayah menoleh padaku, matanya memerah seketika dan digenangi air mata seakan-akan ingin memberikan isyarat.

Aku tak mengerti apa yang terjadi, aku hanya terus menatap ayah yang mendekatiku dan seketika ia langsung memeluku. Ayah menangis hebat dipelukku, air matanya yang hangat membasahi pundakku, “Kamu jangan tinggalin ayah ya..” rintih suara ayah kepadaku.

Aku menangis… Aku sudah mengerti.. Ibu sudah tiada..

Aku mencoba melepaskan pelukkan dari ayah, aku ingin melihat ibu yang masih berada didalam mobil yang membawanya. Ayah terus menahanku dan mencoba menenangkanku. Aku hanya bisa berteriak dan menangis.. “Perasaan apa ini?? mengapa begitu sakit??” ronta hatiku

Setelah dimandikan, dipakaikan pula kain kafan kemudian ibuku dishalatkan.
Aku dan ayahku beserta tetangga lainya mengantarkan ibuku ke tempat istarahatnya yang terakhir. Ayah terus menggenggam tanganku dengan matanya yang kosong menatap kubur ibuku, aku tau betapa ayah sangat mencintainya..

Patah hati terhebat yang pernah aku rasakan diusiaku yang seharusnya menikmati masa bermain tanpa beban. Namun kini aku menyimpan trauma…

Hanya berselang Empat bulan… Ayah menyusul ibu ke surga..

 

Bersambung….

 

Terbit : 27 Februari 2024
Penulis : Wahyu Fajarullah
Penerbit : Beltim News

Penulis: Wahyu Fajarullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *