Sukses Kibarkan Bendera Pusaka, Ini Pesan Nikman Untuk Generasi Berikutnya

Beltimnews.com, Manggar – Bendera Merah Putih sukses dikibarkan dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Depan Kantor Bupati Belitung Timur (Beltim), Rabu (17/8/2022).

Suksesnya pengibaran sang Merah Putih, tidak lepas dari keberhasilan dan tanggung jawab pasukan tiga anggota Paskibraka yang dipilih untuk mengibarkan bendera pusaka tersebut.

Dari tiga orang itu, yang pertama adalah Muhamad Al fikri, bertugas sebagai jangkar pagi. Dia berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Gantung dan merupakan putra dari pasangan Ibu Kiki Mariyanti dan Jupri.

Kedua Nikman, yang bertugas sebagai penggerek Pagi. Dia sebagai perwakilan dari SMA Negeri 1 Manggar dan merupakan putra pasangan almarhum Bapak Lukman dan almarhumah Ibu Fatmawati. Tak hanya sebagai penggerek pagi, Nikman pun dipilih sebagai petugas penggerek untuk penurunan bendera di sore harinya.

Kemudian yang ketiga, Ananda Dika Fitra widiadahana yang bertugas sebagai pembentang pagi. Dia siswa SMA Negeri 1 Gantung dan merupakan putra dari pasangan ibu Tunwitarti dan ayah bernama Agus Fitriardi.

Selama menjalani latihan, ketiganya mengaku melewati proses yang panjang dan cukup berat setelah melewati berbagai test untuk mendapatkan posisi tersebut.

“Tentu tidak gampang untuk menjadi pasukan tiga ini soalnya dipilih untuk ditest satu persatu dan akhirnya alhamdulillah kita bertiga yang dipilih dan dipercayakan untuk menjadi pasukan tiga pagi, latihannya cukup berat tiap malam ada jatah push up,” ujar Nikman, anggota pasukan tiga kepada Beltimnews.com, Rabu (17/8/2022).

Selain itu, Menurut Nikman, Ada beberapa hambatan atau kendala yang membuat pasukan tiga kesusahan saat melaksanakan proses latihan. Mulai dari faktor angin hingga internal dari diri mereka masing-masing.

“Kendala itu waktu latihan angin yang kencang, jadi kan kalau angin bertiup kencang yang bertugas sebagai pembentang kesusahan dan saya sebagai penggerek berusaha menahan cukup keras agar bendera tetap di posisinya,” katanya.

Kendala lain sambungnya, adalah perasaan lelah, jenuh dan bosan karena selama proses latihan tidak diperbolehkan menggunakan hp. Kebiasaan tersebut berbeda dengan kebiasaan mereka di rumah.

Meski demikian, Nikman mengaku sangat senang menjalani proses diklat karena banyak pengalaman dan cerita yang bisa didapatkan. Mulai dari suka dan duka, hingga kebersamaan dengan mengedepankan jiwa korsa.

“Untuk adik-adik kedepannya, semoga bisa lebih semangat lagi dari kami. Ikuti kata pelatih dan jangan pernah merasa dongkol. Boleh dongkol tapi jangan diucapkan,” pungkasnya.

Penulis: Teguh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *